Minggu, 24 Januari 2010

Banyak “Harta Karun” di Ternate

Jangan pernah berharap menemukan gedung-gedung atau bangunan mewah di Kota Ternate, Maluku Utara. Sesuai dengan falsafah Sultan Ternate Mudaffar Sjah, yakni rakyat Ternate tidak perlu kaya asalkan bisa hidup berkecukupan. Walhasil, sejak dulu hingga sekarang tidak banyak perubahan yang terjadi di Kota Ternate.


Kota seluas 547,736 kilometer persegi ini memang tidak menyuguhkan suasana glamor pada malam hari. Meskipun termasuk kota tujuan wisatawan asing dan lokal, Ternate tetap mempertahankan kesederhanaan dan ciri khas budayanya. Satu-satunya kemeriahan yang bisa dinikmati hadir pada perayaan ulang tahun Sultan Ternate. Pada perayaan istimewa itu, Sultan menggelar Legu Gam (pesta rakyat) selama berhari-hari di lapangan Keraton Kesultanan Ternate.

Lokasi pesta perayaan ulang tahun, memang sengaja dipilih dekat dengan kediaman Sultan Ternate. Harapannya, Sultan Mudaffar Sjah dan Permaisuri Boki Nita Budhi Susanti bisa melihat kemeriahan pesta dari balkon keraton. Pada malam hari, Legu Gam di lapangan Keraton Kesultanan, tidak ada bedanya dengan pemandangan pasar malam yang ada di Jakarta.

Untungnya, kunjungan SP bersama dengan rombongan Staf Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Surya Yoga ke Ternate pada 18 April 2009 lalu, bertepatan dengan perayaan Legu Gam. Selama lima hari di Ternate, lapangan Keraton Kesultanan tidak pernah sepi. Masyarakat kerap datang untuk menikmati hiburan yang ada di perayaan Legu Gam.

Selain perayaan tahunan Legu Gam, Ternate juga menyimpan banyak “harta karun”. Keindahan alam serta bangunan-bangunan bersejarah adalah harta karun kota Ternate. Satu di antaranya, yakni Keraton Kesultanan Ternate. Bangunan bergaya Eropa abad ke-19 ini didirikan oleh Sultan Mohammad Ali, pada tahun 1823. Kini, Keraton Kesultanan berubah dwifungsi. Tidak hanya sebagai tempat kediaman Sultan Ternate, keraton juga menjadi museum untuk menyimpan benda-benda bersejarah.

Keraton Kesultanan Ternate berdiri di atas tanah seluas 44.560 meter persegi. Bangunan bersejarah ini berjarak 250 meter dari garis Pantai Resen atau tepatnya berada di dataran pantai Kampung Soa-Sio, Kelurahan Letter C, Kodya Ternate, Kabupaten Maluku Utara.

Keraton Kesultanan, kini menjadi bangunan bersejarah yang dilindungi pemerintah. Usaha pelestarian pemerintah dilakukan lewat pemugaran keraton pada tahun 1981-1982. Tepatnya pada 29 April 1982, Keraton Kesultanan Ternate selesai direnovasi, dan diresmikan oleh Mendikbud Dr Daud Jusuf.

Mahkota Berambut

Dalam bangunan megah berwarna kuning ini tersimpan benda-benda bersejarah. Satu di antaranya adalah Mahkota Berambut Kesultanan Ternate. Dipercaya, rambut yang melekat pada bagian atas mahkota tumbuh setiap tahun. Berdasarkan kepercayaan adat Kesultanan Ternate, setiap malam Idul Adha dilakukan upacara potong rambut. Upacara adat dilaksanakan selama tujuh hari.

Mahkota Berambut Kesultanan Ternate disimpan di kamar Puji yang disakralkan oleh penghuni keraton. Tidak sembarang orang bisa masuk ke kamar tersebut. Bahkan, Sultan dan sang Permaisuri hanya sesekali salat di kamar tersebut. Biasanya, saat Sultan dan Permaisuri memiliki permohonan khusus baru bisa melaksanakan salat di kamar Puji.

Selain bernilai sakral, Mahkota Berambut juga biasa digunakan untuk memilih calon Sultan Ternate. Berdasarkan cerita para tetua Ternate, setiap anak lelaki keturunan Sultan Ternate harus mencoba Mahkota Berambut. Mahkota tersebut bisa melekat pas di atas kepala calon Sultan Ternate.

Tidak hanya Mahkota Berambut, di keraton juga tersimpan senjata, baju perang, dan simbol-simbol penjaga kesultanan. Pada kunjungan SP ke keraton, Permaisuri Nita menjelaskan, ada lima binatang penjaga kesultanan. Empat binatang tersebut yakni ular, naga, macan, lipan, dan burung.

Satu dari lima binatang penjaga tersebut dipilih sebagai simbol kesultanan, yakni burung garuda. Lambang burung garuda berkepala dua berarti kerajaan Moloku Kie Raha terbentuk pada 1322. Sementara simbol burung hati terbalik mengandung makna, Sultan Ternate harus selalu mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadinya.

Pantai Sulamadaha

Seusai berkunjung ke tempat bersejarah Kesultanan Ternate, pemandangan alam menjadi pilihan yang tepat untuk menghabiskan liburan. Kota Ternate, yang terletak di kaki Gunung Api Gamalama menyimpan banyak keindahan. Hanya dibutuhkan waktu setengah hari untuk mengelilingi Kota Ternate. Dalam waktu singkat tersebut beberapa tempat wisata bisa dikunjungi.

Pantai Sulamadaha menjadi objek wisata yang diincar warga pada hari libur. Dari pusat Kota Ternate ke pantai memakan waktu satu jam perjalanan. Pantai Sulamadaha juga masih menyajikan pemandangan dan suasana alam yang asli. Bahkan, makanan yang dijajakan di pantai sangat tradisional. Penjual membangun tenda-tenda kecil di pinggir pantai untuk menjual kelapa muda dan makanan kecil.

Pantai Sulamadaha tidak seperti pantai-pantai terkenal di Bali. Meskipun tidak berpasir putih, Pantai Sulamadaha memiliki pesona tersendiri. Pantai berpasir hitam ini berhadapan langsung dengan Pulau Hiri.

Ombak di Pantai Sulamadaha tidak terlalu besar. Jadi, bisa dibilang aman untuk mengajak anak-anak berenang di pantai. Selain ombaknya bersahabat, pantai ini juga lumayan bersih. Tidak seperti pantai di Jakarta kurang terawat. Pada bagian kanan dan kiri pantai, terdapat tebing karang kecil yang ditumbuhi semak belukar dan pepohonan besar.

Pengunjung tidak hanya bisa berenang di pantai, tetapi juga dapat menikmati pemandangan bukit hijau Pulau Hiri. Bila tidak puas hanya memandang, pengunjung bisa menyeberang ke Pulau Hiri dengan menyewa perahu nelayan. Harga sewanya, bisa negosiasi dengan nelayan setempat.

Berdasarkan cerita rakyat, Pulau Hiri dulunya dipakai sebagai tempat pengasingan Sultan Muhammad Djabir Syah. Pulau tersebut dulunya tidak terdeteksi oleh para tentara Belanda. Jadi, Sultan Muhammad Djabir yang merupakan ayah dari Sultan Ternate Mudaffar Sjah selamat dari kejaran Belanda.

Danau Tolire

Bergeser sedikit dari Pantai Sulamadaha, tempat wisata yang juga menjadi pilihan di hari libur, yakni Danau Tolire. Danau Tolire yang berada di bawah kaki Gunung Gamalama ini menyimpan sebuah kisah sedih. Menurut legenda, Danau Tolire terbagi menjadi dua bagian, yakni Tolire besar dan Tolire kecil. Pecahnya danau tersebut dikarenakan kekhilafan seorang ayah kepada anak gadisnya. Sang ayah memerkosa anak gadisnya.

Setelah tragedi memilukan tersebut, terjadi longsor dan danau meluap. Akibatnya, desa Takome tenggelam. Anehnya, setelah surut danau seolah terbagi menjadi dua bagian. Danau Tolire besar diperkirakan sebagai wujud dari sang ayah. Sementara itu, Danau Tolire kecil adalah wujud sang anak.

Jarak dari Danau Tolire besar dan Danau Tolire kecil hanya 200 meter. Danau Tolire kecil berada dekat tepi pantai. Airnya payau, karena jaraknya dekat dengan laut, yakni sekitar 50 meter. Bila mengunjungi Danau Tolire besar, otomatis harus melewati Danau Tolire kecil.

Sayangnya, keindahan Danau Tolire besar lebih menggiurkan ketimbang Danau Tolire kecil. Kebanyakan wisatawan dan warga memilih Danau Tolire besar sebagai tempat wisata. Danau Tolire besar menyerupai loyang raksasa, dengan luas sekitar lima hektar dan kedalaman 50 meter. Keunikan lainnya adalah air Danau Tolire besar berwana hijau saat musim panas dan coklat pada waktu hujan.

Untuk bisa menikmati pemandangan di sekitar Danau Tolire besar, pengunjung bisa masuk tanpa bayaran. Hanya saja, jarak dari jalan besar ke Danau Tolire lumayan jauh. Untung, ada jasa tukang ojek di depan pintu masuk Danau Tolire. Cukup membayar Rp 10.000, tukang ojek akan mengantar pulang pergi dari danau ke pintu masuk.

Selain menyimpan cerita memilukan, Danau Tolire besar juga memiliki kekuatan gaib. Masyarakat setempat percaya terdapat buaya siluman yang melindungi danau. Terlebih lagi, pada zaman dulu Danau Tolire besar merupakan tempat penyimpanan harta Sultan Ternate. Harta disembunyikan di dasar Danau Tolire besar, sehingga aman dari incaran Portugis pada abad ke-15.

Kekuatan gaib Danau Tolire besar bisa dibuktikan dengan cara melempar batu ke danau. Dipastikan, batu tidak akan pernah menyentuh permukaan air danau. Batu yang dilempar seperti hilang sebelum sampai ke permukaan danau. Pengunjung bisa membeli batu yang sengaja disediakan oleh warga. Satu batu harganya Rp 1.000.

Seusai menikmati keindahan danau dan mencoba lempar batu, pengunjung bisa beristirahat sejenak di bawah pepohonan besar. Istirahat di bawah pohon rindang akan bertambah nikmat bila ditemani jagung rebus manis dan teh hangat. Makanan dan minuman bisa dibeli di warung-warung kecil yang ada di sekitar Danau Tolire besar.

Pulau Tidore

Selain Danau Tolire Besar dan Kecil, masih banyak lagi tempat wisata di Maluku Utara yang layak dikunjungi. Bila bersedia meluangkan waktu lebih banyak, bisa mengunjungi Pulau Tidore yang ada di seberang Ternate. Untuk bisa sampai ke Pulau Tidore, dari pelabuhan Ternate bisa menggunakan speedboat kecil. Jarak tempuh dari pelabuhan Ternate ke Tidore hanya sekitar 10 menit saja. Sementara ongkos speedboat per orang sebesar Rp 8.000.

Sampai di pelabuhan Rum Tidore, wisatawan bisa menggunakan angkot biru untuk berkeliling pulau seluas 1.797 km2 ini. Pulau Tidore terbilang sepi dibandingkan Ternate. Pada pukul 18.00 waktu setempat, tidak ada lagi angkot yang beroperasi. Hanya kendaraan pribadi dan motor yang lalu-lalang.

Meskipun tergolong sepi, Pulau Tidore menyuguhkan tempat-tempat wisata yang tidak kalah indah dengan Ternate. Sebut saja wisata sejarah Tugu Pendaratan Sebastiano De Elaco. Tugu yang dibangun oleh pemerintah Spanyol ini menjadi satu-satunya bukti sejarah yang menyatakan bumi itu bulat. Dulu, saat terdampar di Pulau Tidore, Sebastian De Elaco berhasil membuktikan bahwa bumi itu bulat.

Tempat wisata lain di Tidore, yakni kolam air panas Akesahu. Kolam air panas ini berdekatan dengan pantai Akesahu. Dipercaya, dengan berendam di dalam kolam air panas berbagai penyakit bisa sembuh. Untuk bisa masuk ke kolam air panas Akesahu, pengunjung hanya perlu mengeluarkan uang masuk Rp 1.000 per orang.

Setelah berendam di kolam air panas, biasanya pengunjung diminta mengikatkan seutas tali di ranting pohon beringin besar. Tujuannya, agar penyakit tidak lagi ikut di badan. Penyakit akan tinggal di dalam tali yang terikat di pohon beringin besar.

Tidak hanya kolam air panas Akesahu, Pulau Tidore juga memiliki wisata taman laut Maetara, museum Kesultanan Tidore Sonyine Malige, Pantai Cobo, dan benteng Tahua. Pulau Tidore, untungnya tidak terlalu luas. Cukup dengan meluangkan waktu satu setengah jam, sudah bisa mengelilingi pulau menggunakan mobil. Kondisi jalan di Pulau Tidore pun sangat mulus. Berbeda jauh dengan kondisi jalan di Jakarta yang banyak lubang.

Oleh-oleh

Tidak hanya berburu tempat wisata, wisatawan pun harus menyempatkan waktu berbelanja oleh-oleh khas Maluku Utara di Pasar Gamalama, di jalan Bousorie. Perhiasan dari besi putih bisa menjadi pilihan oleh-oleh yang unik untuk dibawa pulang.

Perhiasan tersebut bervariasi bentuknya. Harganya juga cukup sebanding dengan kualitas besi putih yang anti karat. Asalkan pintar menawar, sebuah cincin besi putih bisa dibeli dengan harga Rp 20.000 sampai Rp 30.000.

Selain perhiasan, oleh-oleh khas lainnya, yakni kue kering kenari dan kacang kenari. Khusus untuk makanan di Ternate memang tergolong mahal.

Alasannya, bahan baku makanan masih diambil langsung dari Manado. Untuk itu, sebelum memesan makanan, ada baiknya bertanya berapa harga seporsi kepada penjual. [Elvira Anna Siahaan]

Sumber:
http://epaper.suarapembaruan.com/default.aspx?iid=24908&startpage=page0000017, dalam :
http://www.potlot-adventure.com/2009/05/03/banyak-harta-karun-di-ternate/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar